Saturday, 12 July 2008

petualangan ku

Dari mana kita mulai,
Oke
Saya berasal dari keluarga biasa saja, dengan tiga saudara satu kakak, dan dua adik. Pada saat saya memasuki usia 16 tahun merupakan awal perubahan dalam kehidupan sexsual saya, yang asalnya tidak tau apa apa menjadi sedikit lebih tau.
Mei 1988
Awal perkenalan dengan sex pada awalnya saya memandang bahwa semua manusia adalah sama yaitu memiliki alat kelamin yang sama knapa saya berfikir seperti itu, logikanya kalo memang beda kenapa ada yang namanya gay dan ada yang namanya lesbi. So itulah pikiran bego saya pada saat itu.
SMP 7 citeureup kelas 2
“Ah saya pernah ningali nu ewean” (ah Saya pernah melihat orang berhubungan badan)
“Baleg sep ari ewean the naon?” (yang bener tapi tunggu dulu hubungan badan itu apa?)
“Belegug maneh mah nya ewean the nu dilakukeun ku indung bapak sia nu akhirna jadi maneh.” (dasar goblog hubungan badan adalah hal yang dilakukan oleh kedua orang tua kamu hingga jadi kamu)
Deg timbullah pikiran emang saya lahir dari mana padahal guru biologi sudah menerangkan tentang hal itu
“kumaha emang?” (memangnya gimana)
“Ari maneh ngeus pernah ningali memek can?” (KAmu sudah melihat memek belum?)
“Acan, lainna sarua wae bentuk na mah antara lalaki jeung awewe?” (belum, bukannya bentuk kelamin lelaki dan perempuan itu sama?)
Sambil medegulkan kepala saya asep berkata
“Belegug siah” (Goblog kamu)
“Ngke ku urang ajakan ningali di leuwi ameh maneh bisa ningali bedana” (nanti saya ajak kamu ke sungai agar kamu bisa tahu bedanya)
Nya ari kitu mah”(oke kalo begitu)
Akhirnya pada sore hari kami bertiga asep abuy dan saya pergi ke sungai tempat pemandian umum.
“Tuh tingali ari awewemah aya susuan “ (coba lihat, kalo perempuan itu punya payudara)
oh iya saya belum memperkenalkan diri nama saya budi badan saya tegap dengan tinggi 160 pada saat itu, sekarang tinggi mencapai 180 bentuk badan standar saja karena setiap hari saya mengerjakan pekerjaan yang lumayan berat tiap hari minimal membuat 300 bata dari membawa tanah di sawah haji sobari mencetaknya mengeringkan, membakar dan akhirnya mengangkuti bata tersebut ke mobil seperti saya bilang di awal kami dari keluarga biasa kalo tidak bekerja seperti itu maka kami tidak bisa makan. Pekerjaan itu saya lakukan semenjak kelas 4 SD di citeureup.
“heuehnya ningan gede teu siga nu urang” (iya yah ternyata dadanya lebih besar di banding milik saya)
“Tuh tungali mak kosasih keur bubuka, katingali teu?”(coba lihat ibu kosasih sedang membuka baju, kelihatan ngak?)
“Ma kosasih teu boga kanjutkan?” (ibu kosasih ngak punya penis kan?)
Sambil menggaruk garuk kepala akhirnya saya berkata
“Oh kitu” (oh begitu)
Kami bertiga ngitip yang mandi sampai semua selesai dan beranjak pergi
Ku lihat abuy mengocok kemaluannya dengan celana masih menempel
“Anjrit aing haying ngwe” (gila saya pengen hubungan badan)
Kata abuy
“ari maneh nanaonan buy? (kamu ngapain Buy)
Asep pun sedang melakukan hal yang sama
““yueh kieu teh ngarana ngocok, coba weh ngeunah pisan siah” (nih yang seperti ini namanya ngocok coba dulu, enak banget)
Akhirnya saya melakukan hal yang sama namun karena jengah melakukannya di hadapan abuy dan asep maka saya tidak melanjutkan nya lagi sedangkan mereka berdua melakukan hal itu sampai keluar air mani.
Hari menjeulang malam akhirnya kami bertiga memutuskan untuk pulang ke rumah masing masing.
Di rumah ibu sedang menenyelesaikan setrikaannya
“Budi timana wae ari maneh teh? “ (Budi kamu dari mana saja?)
“ari tadi ka masigit teu?”(tadi ke masjid ngak?)
“ ngeus solat can?”(sudah solat belum?)
Di berondong dengan pertanyaan itu saya menjawab
“Tadi ti si asep kerja kelompok aya tugas ti sakola” (tadi dari rumah asep ada kerja kelompok tugas dari sekolah)
“Parantos ma” (sudah bu)
“Ari bapak kamana mak” (bapak dimana bu?)
Masih di masigit meureun, nya ngeus kaditu dahar tapi sesakeun jeung si iroh si iroh can dahar (masih di mesjid mungkin, ya udah sana makan, tapi jangan di habiskan adikmu si iroh belum makan)
Pada malamnya masih terbayang di pelupuk mata bagaimana bentuk tubuh mak kosasih tetangganya asep yang begitu berkesan
Sambil membayangkan tidak terasa sambil mengelus penis di luar sarung
“Bener ningan ngeunah euy” (iya ternyata enak juga)
Saya melakukan itu sampai tertidur.
Pada hari minggu merupakan hari yang sangat melelahkan karena dari pagi hingga sore saya melakukan pekerjaan mengangkut bata yang telah jadi ke mobil karena ada pesanan dari CV waringin sebanyak 10 truk.
Hari begitu panas maklum musim kemarau lagian bata hanya di buat pada musim kemarau saja karena pada musim hujan semua berganti menjadi pekerjaan di sawah. Namun dengan gembira saya melakukannya karena uangnya juga lumayan.
“Bud milu moal” (bud ikut ngak)
Tanya kang armasan
“Milu milu…” (ikut ikut)
“Hayu atuh” (ayo kalo gitu)
Akhirnya kami berdua saya dan mang armasan pergi mengantarkan bata tersebut. Setelah semua urusan selesai maka kami berdua masuk kesebuah warung makan ternyata pemilik warung makan itu ceu salmah, seorang janda yang di tinggalkan suaminya selama 2 tahun karena terpikat oleh gadis sebelah kampong.
Mang armasan harus kembali ke CV waringin mengambil uang akhirnya kami di tinggal berdua ceu salmah orang nya hitam manis, dengan postur tubuh yang standar ibu ibu maklum usianya sudah menginjak 45 tahun. Dari mana saya tahu?
hemmmm lets me thinks about it for a minute
ada dech
wkwkwk
karena lama dan ceu salmah mau tutup warung maka saya membantunya menutup warung tersebut. cecep datang setelah magrib dan dia bilang bahwa mang armasan harus mengirim batanya saat itu juga maka setelah memberikan uang kerja hari itu cecep langsung pulang. Wah gmana dong padahal kalo sudah gelap gini sudah tidak ada kendaraan yang menuju desa ci teuruep dalam kebingungan tersebut ceu salmah menawarkan saya untuk menginap di warungnya sekalian menemani dia. Ceu salmah tinggal berdua dengan pembantunya di warung tersebut. Akhirnya karena ngak ada pilihan lain maka saya mengiyakan saja padahal hati ini kebat kebit karna takut orang tua di rumah kawatir sedangkan kalo saya pulang pun jaraknya lumayan jauh dengg padahal besok sekolah duh gimana dong?.
Meja makan di tempat itu di satukan untuk menjadi alas tidur. Ceu salmah memberikan sarung sebagai selimut karena saat itu angin malam sangat dingin.
Jam sudah menunjukan pukul 8 malam padahal badan sudah terasa gatal gatal dan lengket akhirnya saya memaksakan ke kamar mandi yang harus melewati kamar ceu salmah dengan pembantunya itu yaitu neng lastri.
Setelah mandi dengan hanya di balut dengan sarung dari ceu salmah. Oh iya saya menggunakan kaos yang saya gunakan sebagai handuk dan sekalian mencucinya agar besok sudah kering. Akhirnya saya kembali harus melewati kamar ceu salmah.
Kamar ceu salmah merupakan kamar yang sangat sederhana sekali hanya ada bale2 yang terbuat dari bamboo di hampari kasur kapuk yang sudah sangat tipis sekali ada beberapa poto di situ namun tidak ada gambar mantan suaminya walaupun sederhana kamar ceu salmah rapih dan bersih.
Ceu salmah menggunakan daster terusan bermotip kembang2 berwarna putih sedangkan lastri menggunakan daster bermotip batik dengan di terangi lampu teplok maka saya dapat melihat posisi tidur mereka yang saling membelakangi.
Dengan santai saya kembali ke tempat pembaringan saya mungkin karena lelah maka saya cepat terlelap.
Jam satu malam saya terbangun karena ingin buang air kecil
Ketika melewati kamar ceu salmah, posisi tidur mereka berubah, daster yang di gunakan ceu salmah tertarik ke atas maka saya dapat melihat pahanya yang mulus itu sedangkan lastri tidur dengan menyamping.
Deg
Waow
Namun karena panggilan alam lebih mendesak maka saya melanjutkan ke kamar mandi.
Sekembalinya dari kamar mandi saya kembali melihat pemandangan indah itu
Saya kembali ke depan warung untuk tidur namun bayangan itu tetap membayangi
Maka saya kembali ke dalam kamar untuk melihat nya
Wauw
Walau sudah berusia namun paha nya itu mengunndang saya untuk mendekat, untuk memeriksa ceu salmah menggunakan celana dalam warna krem dan di sela sela celana dalam tersebut terlihat rambut rambut halus.

Capter 2
Semakin lama saya semakin berani untuk mendekat padahal di situ masih ada lastri namun untungnya muka lastri menghadap ke dinding.
Dengan perasaan dag dig dug saya memberanikan diri untuk mengusap betis ceu salmah, namun tidak ada gerakan. Hal ini membuat saya semakin berani untuk bertindak lebih jauhdan mengusap pahanya.
Tiba tiba saya melihat lastri bergerak dan itu membuat saya langsung ngacir ke depan.
Dalam hati saya berkata “Duh untung teu kanyahoan” (untung ngak ketahuan)
Pagi harinya hanya dengan menggunakan sarung saya ke belakang lagi dan melewati kamar ceu salmah.
Subuh2 Lastri pergi berbelanja ke pasar cijengkol dan ceu salmah membereskan warung pada saat itu harusnya saya balik kerumah kan sekolah pada kenyataannya saya tetap di warung tanggung pikir saya.
Pada saat ceu salmah mandi saya memberanikan diri untuk mengintip, kan pengen up close and personal.
Daun pintu kamar mandi tidak ada kuncinya d terbuka sebagian sehingga dapat terlihat kondisi kamar mandi.
Kulihat ceu salmah membuka daster terusannya terpampanglah tubuh yang hanya berbalut celana dalam. Perasaan makin gugup ketika kedua belah tangan ceu salmah menurunkan celana dalamnya
Waow ternyata tubuh mulus tanpa penghalang itu begitu ahhh saya ngak bisa mengungkapkan dengan kata2
Jakun yang baru tumbuh ini pun naik turun karena tidak bisa menahan gejolak di dada. Area di selangkangannya seolah membetot mata hingga tidak bisa berpaling dari pemandangan itu.
Ketika air mengguyur badan itu terlihat seperti bergerak slow motion setiap tetes nya begitu indah.

Pada saat kondisi seperti itu terdengar suara lastri memanggil ceu salmah setelah pulang dari pasar menceritakan tentang harga harga bahan pangan yang naik.
Kondisi saya pada saat itu berada di kamar ceu salmah yang berarti posisi terjepit di depan lastri yang baru dating dan di kamar mandi ada ceu salmah yang sedang mandi.
Setan alas gimana ini biar ngak di tuduh ngintip padahal kan saya beneran ngintip. Maka saya pura2 menggedor pintu kamar mandi
“Ceu cepetan nih saya sudah ngak kuat”
“ sebentar bud ceuceu masih mandi tahan dulu bentar”
Dengan berpura2 memegan perut saya jongkok di depan pintu kamar mandi
“kenapa bud” Tanya lastri
“ini sakit perut ngak ketahan mau buang”
“sakit perut apa ngintip” sindir lastri
“beneran”
Dengan di balut handuk berwarna merah ceu salmah keluar dari kamar mandi
“eucue sudah selesai sana cepetan”
Ketika di kamar mandi saya menghembuskan napas lega

Siang itu dengan ikut mobil sayur dan membayar 50 rupiah saya pulang keu rumah
Di rumah tidak ada siapa2 emak pergi ke rumah saudara yang akan hajatan dan bapak paling sedang ketempat pembakaran bata.
Kakak yang tidak melanjutkan sekolah karena tidak ada dana di tempatnya Uwa (paman) dan adik adik sekolah.
Timbul perasaan bersalah pada ema dan bapak karena pada hari itu saya tidak sekolah. Dengan malas saya melangkahkan kaki ke tempat pembakaran bata.
“Darimana aja kamu tuh bud? emak sampai kawatir kamu semalam ngak pulang” Tanya bapak
“kemaren saya di ajak mang armasan k pabrik cumin saya di tinggal ke jakarta”
“Ya udah berarti hari ini kamu ngak sekolah?”
“ya, maafin budi ya pak”
Tanpa melanjutkan pembicaraan saya membantu bapak menyusun bata yang akan di bakar serta menyelinginya dengan jerami padi yang sudah kering.
Supaya proses pembakaran merata.

Matahari semakin meninggi dan pada waktu makan siang emak dating membawa makan siang
“semalam kemana aja kamu?” Tanya emak
“di pabrik mak, kan kmaren dibawa kang armasan”
“ya udah makan dulu”
Saya dan bapak makan dengan lauk yang terlalu sering di hidangkan ikan peda, sayur genjer plus sambal terasi mentah.

Sore harinya sambil menunggu petang saya pergi kekebun walau cumin sepetak tapi itu lah kekayaan kluarga kami. Kebun ditanami pohon singkong (ketela pohon), pisang, sayur sayuran dan cabe rawit.

Rumah kami walau cukup sederhana dengan jenis rumah panggung di lapis dinding yang terbuat dari anyaman bamboo rumah itu memiliki 3 kamar tidur dapur, ruang keluarga, belum ada yang namanya listrik kamar mandi misah agak sedikit jauh dari rumah di depan rumah ada bale bale tempat biasanya bapak tidur kalo malam.
Oh iya biar ku perkenalkan dulu keluarga ku
Bapak ku bernama saripudin dan biasa di panggil mang udin oleh tetangga2 usia nya sekitar 45 tahun saat itu dengan tinggi 167 cm, berbadan kekar, berkulit hitam karena selalu terkena sinar matahari pabak adalah seorang pekerja bangunan namun karena tidak ada kerjaan maka bapak membuat bata dan apabila musim hujan turun ke sawah. Sudah 3 bulan ini tidak ada panggilan biasanya bapak pergi kerja maka selama 3 sampai4 bulan baru pulang, emak bernama siti patimah usianya sekitar 39 tahun tinggi 157 cm dengan wajah bulat telut berkulit coklat karena sering bekerja di sawah sebai buruh tani. Kakakku bernama somad berusia 20 tahun pekerjaannya ngebantuin usaha uwa (paman) dagang barang kreditan semingu selai kakakku pulang denagn tinggi sama seperti bapak namun lebih kurus. Badan kakak ringkih (mudah terserang penyakit) sehingga dia tidak bisa bekerja yang melelahkan. Adik pertama saya bernama ending baru kelas 5 SD dia merupakan kesayangan keluarga karena otaknya encer dia selalu menjadi rengking pertama di kelasnya usianya 11 tahun. Dan si bungsu nama nya wati masih kelas 2 SD sifatnya pemalu bila bertemu dengan orang yang belum dia kenal. Usianya 9 tahun.

Di belakang rumah kami memelihara ayam dan disamping rumah di Tanami tanaman obat karena di perintahkan oleh bapak kuwu katanya sih anjuran pemerintah.

Pada malam hari sepulang dari pengajian di mesjid biasanya banyak warga yang menonton acara TV di bale desa yang dinyalakan dengan listrik dari rumah pak kades. Pada saat itu yang ada baru TVRI dengan acara konpencapir merupakan acara kuis antara kelompok tani. Karena tidak tertarik maka saya pulang kerumah.
Dengan di terangi cahaya bulan saya melangkah pergi.
Di tengah jalan terdengar suara suara yang ber bisk karena penasaran maka saya bergerak mendekat.
Di antara semak belukar terlihat sepasang manusia yang sedang berduaan
Dalam hati saya bertany2 kenapa ya mereka berduaan di saung(rumah2han yang ada di kebun atau di sawah) malam2 dengan bergerak perlahan maka saya mendekati saung itu sehingga terlihatlah kondisi mereka berdua.
Mang kosim dan mak kosasih
Terlihat mereka berdua berpelukan dengan posisi duduk tangan mang kosim di dada mak kosasih meremasnya sambil menciumi belakang leher.
Terdengar suara lenguhan mak kosasih tangan mak kosasih terlihat bergerak2 mengusap paha mang kosim
Adegan ini membuat saya emakin penasaran
Tangan mang kosim mulai menjelajah tubuh mak kosasih di setiap lekuknya sambil tetap menciumi leher dan telinga mak kosasih tubuh mak kosasih terlihat meliuk2 seperti menahan geli.
Ciuman mag kosim mulai turun dari telinga, leher dan kemudian pundak tangan mang kosim yang kanan berusaha membuka kncing baju mak kosasih, di bukanya kancing itu satu persatu sehingga terbuka lah baju mak kosasih yang sekarang badan atasnya tinggal mengenakan BH berwarna merah muda tangan mang kosim semakin giat meremas dada mak kosasih pengait BH yang berada di punggung itu pun dengan ahli telah terlepas namun belum di buka.
Ciuman mang kosim semakin membara dari pundak turun ke punggung sambil tangan nya tetap bergrilya di dada mak kosasih akhirnya bh yang tadinya menutupi dada mak kosasih di buang tepat ke arah ku, tangan kiri mang kosim bergerak ke arah selangkangan mak kosasih dengan menggunakan telapak tangan nya terlihat gerakan mengelus2
Ach.. ach..
Suara mak kosasih sudah berburu dengan napasnya yang menderu2 mulut mang kosim mengarah ke muka mak kosasih dan mereka berdua berciuman, terlihat bibir mereka bertemu lalu saling mengulum suara engahan napas semakin menderu
“ayo dong saying saya udah ngak tahan” kata mang kosasih
“Ngak kuat apa” Tanya mak kosasih dengan centilnya
Dibalikannya tubuh mak kosasih sehingga di bale bale itu mak kosasih terlentang dengan mulut yang masih berciuman tangan mak kosasih terlihat membuka pakaian mang kosim sehingga tubuh bagian atas mereka terpampang tanpa pembatas. Arah ciuman mang kosim semakin lama semakin turun melalui leher lalu menciumi kedua tetek yang menggembung itu. Saya tidak bisa bernapas karena memandang pergulatan antara dua anak manusia itu.
Lengan kanan mang kosim memilin putting sebelah kiri sedangkan mulut mang kosim menjilati, menggigit, menghisap tetek sebelah kanan. Tangan kiri mang kosim berusaha menyingkapkan kain yang menutupi bagian bawah tubuh mak kosasih. Lambat namun pasti tebukalah semua kain penyelubung tubuh mak kosasih tangan kiri mang kosim berusaha membuka ikat tali celananya namun terlihat kesulitan tangan mak kosasih berada di punggung mang kosim namun karena mungkin merasa mang kosim belum bisa membuka celana somprangnya maka tangan itu membuka ikatan. Dengan mata terpejam terlihat mak kosasih menikmati permainan yang di lakukan oleh mang kosim akhirnya celana itu terlepas. Karena capek membungkuk saya berjongkok mengintai.
K***l mang kosim tegak bagai bendera, mang kosim megerak gerakan badannya menggesek gesekan antara k****l dan m****k mak kosasih.
Terdengar mak kosasih melenguh ke enakan dengan tidak sabar mang kosim mencoba memasukan K***L ke dalam M****K mak kosasih namun sepertinya tidak masuk masuk tangan kanan mak kosasih turun dan memegang K***L mang kosim dan membimbingnya menuju lobang kenikmatan itu.
Dengan di iringi lenguhan mak kosasih maka masuk lah k***l mang kosim ke dalam m****k mak kosasih. Achhhh……..
Mereka diam sebentar mungkin untuk merasakan sensasi yang terasa saat penetrasi pertama. Beberapa waktu kemudian mang kosim mulai menggerakan badannya maju mundur, dengan posisi misionari. Tangan mang kosim tidak pernah lepas dari tetek mak kosasih, memeras, memilin menjepit sedanggkan tangan mak kosasih terlihat seperti menggenggam erat bamboo yang menjadi pembatas bale2 gerakan mang kosim semakin cepat


Apabila terdapat Persamaan nama karakter dan lokasi hal ini terjadi tidak sengaja.